Skip to main content

Featured

[ID] Menapaki Lagi Jejak di Gunung Bromo: Kembali ke Pesona Alam Tengger

Malang vs Probolinggo: Gerbang Menuju Bromo Bagi banyak pelancong, baik domestik maupun mancanegara, Malang bukan sekadar kota wisata. Kota ini sering menjadi titik awal perjalanan tak terlupakan menuju Gunung Bromo, salah satu destinasi paling ikonik di Pulau Jawa. Gunung berapi legendaris ini bahkan dikenal luas sebagai salah satu daya tarik wisata paling terkenal di Indonesia. Bromo sendiri merupakan gunung berapi aktif yang terdapat di tengah Kaldera Tengger, yang berada dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru—sebuah bentang alam yang dilindungi dan mencakup empat kabupaten di Jawa Timur, yaitu Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Malang. Perjalanan darat dari Malang menuju Gunung Bromo memang memakan waktu sekitar tiga jam. Namun, banyak wisatawan tetap memilih Malang sebagai basis perjalanan karena kota ini menawarkan pilihan hotel yang lebih beragam, kuliner yang variatif, serta suasana kota yang hidup.  Sebagai perbandingan, Probolinggo memberikan akses lebih cepa...

[ID] Gereja Santo Laurensius, Gereja Neo-Gotik Baru di Alam Sutera

Paroki Baru Yang Megah di Alam Sutera

Setelah menjelajahi Katedral Jakarta yang bergaya neo-Gotik dan telah berdiri selama lebih dari dua abad dalam tulisan sebelumnya, kali ini kita berpindah ke sebuah gereja yang lebih modern namun masih mengusung gaya arsitektur yang serupa. Gereja Santo Laurensius di Alam Sutera ini merupakan salah satu gereja Katolik yang cukup mencolok di kawasan Tangerang Selatan. Gereja ini diresmikan dan diberkati pada tahun 2009 oleh Kardinal Julius Darmaatmadja, S.J., yang saat itu menjabat sebagai Uskup Agung Jakarta. Meskipun bangunan utamanya telah selesai pada saat peresmian, berbagai fasilitas pendukung di kompleks gereja seperti aula, ruang pastoral, dan rumah pastoran baru rampung seluruhnya pada tahun 2016. 

Paroki Alam Sutera sendiri merupakan hasil pemekaran dari Paroki Serpong, yang sebelumnya telah membentuk sejumlah paroki baru di wilayah Tangerang akibat pertumbuhan jumlah umat yang pesat. Meskipun secara administratif Gereja Santo Laurensius terletak di Alam Sutera, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, paroki ini bersama dengan gereja Katolik lainnya di kawasan ini tetap berada di bawah naungan Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), tepatnya dalam lingkup Dekenat Tangerang 2. 

Paroki ini sebelumnya merupakan bagian dari Paroki Serpong yang kita kunjungi sebelumnya

Pelindung gereja ini adalah Santo Laurensius, seorang martir pada abad ke-3

Sejarah Pembangunan Gereja dan Teladan Santo Laurensius

Proyek pembangunan Gereja Santo Laurensius dimulai pada tahun 2005 sebagai respons terhadap meningkatnya jumlah umat Katolik di kawasan Alam Sutera dan sekitarnya. Setelah melalui proses pembangunan selama sekitar dua tahun, gedung gereja utama akhirnya rampung pada akhir tahun 2007. Tak sampai lima tahun kemudian, tepatnya di awal tahun 2012, komunitas umat di gereja ini secara resmi memperoleh status sebagai sebuah paroki baru, menandai babak baru dalam pelayanan pastoral di wilayah tersebut. Santo Laurensius, yang dipilih sebagai pelindung paroki ini, merupakan salah satu dari tujuh diakon Gereja di kota Roma pada abad ke-3. 

Ia dikenal luas dalam sejarah Gereja karena keberaniannya dalam menghadapi tekanan kekuasaan Kekaisaran Romawi. Setelah Paus Sixtus II wafat sebagai martir, Santo Laurensius diperintahkan untuk menyerahkan harta kekayaan Gereja. Namun, alih-alih tunduk, ia justru membagikan kekayaan tersebut kepada kaum miskin, yang menurutnya merupakan “harta sejati Gereja”. Tindakan penuh iman dan kasih itu membuatnya dihukum mati secara kejam pada tahun 258 M, dan sejak itu dikenang sebagai martir yang setia dan pelindung kaum miskin.

Gereja ini seringkali digunakan untuk menyelenggarakan Sakramen Pernikahan

Meskipun baru, arsitektur gereja banyak mengadopsi gaya neo-Gotik

Arsitektur Neo-Gotik Gereja Santo Laurensius

Kata-kata terkenal dari Santo Laurensius, "Pauperes Sunt Thesauri Ecclesiae" (Orang miskin adalah harta gereja), diabadikan dalam plakat di bawah patungnya yang berdiri megah di halaman depan gereja. Ungkapan ini menjadi pengingat abadi akan warisan beliau dalam hal belas kasih, pelayanan tanpa pamrih, dan keberpihakan kepada kaum kecil dan terpinggirkan—nilai-nilai yang juga menjadi semangat dalam kehidupan berkomunitas di Keuskupan Agung Jakarta. Gereja Santo Laurensius dirancang oleh arsitek ternama Indonesia, Jacob Gatot Surarjo (yang juga dikenal sebagai salah satu pendiri M Bloc Group), dengan kapasitas tampung hingga 1.750 umat. 

Bangunannya mengadopsi gaya arsitektur neo-Gotik, yang tercermin dari berbagai elemen seperti menara kembar yang menjulang, lengkungan-lengkungan lancip yang anggun, serta jendela-jendela kaca patri yang memancarkan nuansa sakral dan keindahan liturgis. Di bagian dalam gereja, dua belas tiang struktural berdiri kokoh, melambangkan dua belas rasul yang menjadi fondasi Gereja Katolik. Simbolisme ini mempertegas misi spiritual Gereja sebagai perpanjangan dari karya kerasulan, serta sebagai tempat di mana iman dibangun di atas dasar kasih dan pengharapan.

Fakta menarik, pada tahun 2024 gereja ini digunakan sebagai lokasi produksi film horor lokal

Gedung pastoran ini adalah tempat tinggal para pastor paroki 

Kompleks Gereja Yang Sempat Menjadi Lokasi Syuting Film

Berada di bagian belakang kompleks gereja, tepat di samping pastoran, para pengunjung dapat menemukan sebuah Gua Maria yang tenang dan menyejukkan, beserta beberapa patung malaikat surgawi. Area ini menjadi tempat yang sangat cocok untuk berdoa secara pribadi dan merenung dalam keheningan, jauh dari hiruk-pikuk aktivitas di sekitar gereja. Menariknya, Gereja Santo Laurensius juga sempat tampil dalam budaya populer. Gereja ini menjadi salah satu latar utama dalam film horor Indonesia berjudul Kuasa Gelap yang dirilis pada tahun 2024. Film ini menjadi tonggak penting karena merupakan film Indonesia pertama yang secara khusus mengangkat tema eksorsisme dalam tradisi Katolik. Kuasa Gelap mengeksplorasi peperangan rohani dari sudut pandang iman Katolik—sebuah topik yang sebelumnya belum pernah digarap dalam perfilman nasional. 

Gereja ini sering masuk dalam daftar gereja yang wajib dikunjungi selama tahun Yubileum

Gua Maria ini dapat ditemukan di bagian belakang gereja

Gereja Yang Populer dan Terus Tumbuh

Dalam konteks iman yang lebih dalam, di luar popularitasnya yang kian dikenal lewat dunia perfilman, Gereja Santo Laurensius telah menjadi salah satu destinasi ziarah terpenting dan paling banyak dikunjungi di Keuskupan Agung Jakarta selama Tahun Yubileum 2025. Lebih jauh lagi, sebagai bagian dari dinamika perkembangan Gereja Katolik di kawasan Tangerang dan sekitarnya, saat ini tengah berlangsung pendirian sebuah gereja baru di wilayah ini, yaitu Gereja Santa Perawan Maria Benteng Gading. Pembangunan gedung gereja baru yang baru saja rampung menjadi simbol harapan dan komitmen umat dalam menjaga dan memperkuat iman mereka. Langkah ini menjadi bukti nyata bahwa Kekatolikan di Indonesia terus bertumbuh dan beradaptasi dengan kebutuhan zaman, sekaligus menegaskan peranan penting paroki-paroki baru dalam membangun komunitas yang solid dan berdaya. Perjalanan spiritual ini pun terus berlanjut, membawa harapan dan berkah bagi generasi mendatang. 



Paroki Alam Sutera
Gereja Santo Laurensius

Lokasi Jl Sutera Utama No 2, Alam Sutera, Tangerang Selatan, Banten

Jadwal Misa Mingguan
Sabtu, Jam 05.00 WIB, 07.30 WIB
Minggu, Jam 06.00 WIB, 08.30 WIB, 17.00 WIB, 19.30 WIB







Comments