Skip to main content

Featured

[ID] Menapaki Lagi Jejak di Gunung Bromo: Kembali ke Pesona Alam Tengger

Malang vs Probolinggo: Gerbang Menuju Bromo Bagi banyak pelancong, baik domestik maupun mancanegara, Malang bukan sekadar kota wisata. Kota ini sering menjadi titik awal perjalanan tak terlupakan menuju Gunung Bromo, salah satu destinasi paling ikonik di Pulau Jawa. Gunung berapi legendaris ini bahkan dikenal luas sebagai salah satu daya tarik wisata paling terkenal di Indonesia. Bromo sendiri merupakan gunung berapi aktif yang terdapat di tengah Kaldera Tengger, yang berada dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru—sebuah bentang alam yang dilindungi dan mencakup empat kabupaten di Jawa Timur, yaitu Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Malang. Perjalanan darat dari Malang menuju Gunung Bromo memang memakan waktu sekitar tiga jam. Namun, banyak wisatawan tetap memilih Malang sebagai basis perjalanan karena kota ini menawarkan pilihan hotel yang lebih beragam, kuliner yang variatif, serta suasana kota yang hidup.  Sebagai perbandingan, Probolinggo memberikan akses lebih cepa...

[ID] Menelusuri Jejak Iman: Pentingnya Mengenal Sejarah Gereja dan Santo Pelindung

Mengapa Mengetahui Sejarah Gereja Itu Penting

Seorang teman baru-baru ini bertanya kepada saya, “Kenapa repot-repot belajar sejarah sebuah gereja atau santo pelindungnya? Bukankah cukup datang misa dan berdoa saja?”

Pertanyaan yang wajar. Dan itu membuat saya berhenti sejenak untuk merenungkan mengapa perjalanan ini—mengunjungi paroki, mempelajari kisahnya, dan menulis tentangnya—bermakna begitu dalam bagi saya.

Kenyataannya, setiap gereja lebih dari sekadar bangunan. Di balik setiap paroki ada puluhan tahun iman, perjuangan, dan komunitas. Saat kita mengetahui sejarah sebuah paroki—bagaimana ia didirikan, tantangan yang dihadapi, dan bagaimana ia berkembang—kita mulai melihat bahwa iman kita hari ini dibangun atas doa dan ketekunan mereka di masa lampau.

Mengenal Jejak dan Teladan Santo Pelindung Gereja

Hal ini terutama berlaku pada santo pelindung gereja. Para santo bukanlah sosok yang usang dan yang tinggal di masa lalu; mereka adalah teman seperjalanan iman kita yang memberi kita inspirasi dan rasa keterikatan. Mempelajari santo pelindung membantu kita memahami karakter spiritual paroki dan memberikan kita contoh untuk perjalanan iman pribadi.

Bagi saya pribadi, perjalanan ini telah menjadi sebuah bentuk permenungan rohani. Menulis tentang gereja dan santo-santo ini membantu saya merenungkan jalan iman saya sendiri, dan membagikannya adalah cara saya berbagi kembali. Jika ini dapat membantu setidaknya satu orang merasa lebih terhubung dengan imannya, maka itu sudah sangat berharga.

Di dunia yang bergerak cepat ini, kisah-kisah ini mengingatkan kita bahwa iman bertumbuh seiring waktu, tempat, dan komunitas. Mereka mengajak kita untuk berhenti sejenak dan mengingat, membantu kita bertumbuh bukan hanya dalam pengetahuan, tetapi juga dalam kasih.

Comments