Skip to main content

Featured

[ID] Menapaki Lagi Jejak di Gunung Bromo: Kembali ke Pesona Alam Tengger

Malang vs Probolinggo: Gerbang Menuju Bromo Bagi banyak pelancong, baik domestik maupun mancanegara, Malang bukan sekadar kota wisata. Kota ini sering menjadi titik awal perjalanan tak terlupakan menuju Gunung Bromo, salah satu destinasi paling ikonik di Pulau Jawa. Gunung berapi legendaris ini bahkan dikenal luas sebagai salah satu daya tarik wisata paling terkenal di Indonesia. Bromo sendiri merupakan gunung berapi aktif yang terdapat di tengah Kaldera Tengger, yang berada dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru—sebuah bentang alam yang dilindungi dan mencakup empat kabupaten di Jawa Timur, yaitu Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Malang. Perjalanan darat dari Malang menuju Gunung Bromo memang memakan waktu sekitar tiga jam. Namun, banyak wisatawan tetap memilih Malang sebagai basis perjalanan karena kota ini menawarkan pilihan hotel yang lebih beragam, kuliner yang variatif, serta suasana kota yang hidup.  Sebagai perbandingan, Probolinggo memberikan akses lebih cepa...

[ID] Sambutan Hangat dan Desain Modern Gereja Santa Maria Regina

Tiba di Gereja Dengan Sambutan Hangat Para Among Tamu

Di postingan kali ini, kita akan melihat lebih dekat satu lagi gereja Katolik di Tangerang Selatan, yaitu Gereja Santa Maria Regina, paroki yang ada di Bintaro Jaya. Gereja ini berada di tengah kawasan Central Business District (CBD) Bintaro Jaya Sektor 7 yang ramai, namun justru menjadi tempat yang tenang di tengah kesibukan kota. Gereja ini berlokasi tepat di belakang Supermarket Hari-Hari dan sebelahan dengan pintu masuk area kuliner Taman Jajan CBD Bintaro yang cukup populer. Kawasan ini penuh dengan berbagai kedai makanan dan kopi, sehingga suasananya terasa hidup dan hangat. Saat saya berkunjung ke Paroki Santa Maria Regina, saya merasakan kombinasi menarik antara arsitektur yang modern dan suasana spiritual yang kuat, terlihat dari keramahan dan keuletan umat yang bertugas di Porta Sancta. Walaupun beberapa area seperti Gua Maria sedang direnovasi saat itu, paroki ini tetap menawarkan banyak hal menarik untuk dilihat dan dirasakan.

Paroki ini terletak di pusat keramaian CBD Bintaro Jaya Sektor 7

Petugas among tamu yang ramah dan informatif menyambut kedatangan para tamu

Arsitektur Modern Gereja Santa Maria Regina

Gereja Santa Maria Regina dirancang dengan gaya arsitektur modernis oleh arsitek ternama Indonesia, Yori Antar, yang bekerja sama dengan Tim Pembangunan Gereja. Sebelum pembangunan dimulai, pemilihan lokasi gereja sempat mengalami beberapa revisi karena pertimbangan praktis dan administratif. Lokasi akhir—yang terletak strategis di pusat Sektor 7 Bintaro Jaya yang sibuk ini—dipilih agar mudah dijangkau oleh komunitas Katolik yang terus berkembang di kawasan tersebut. Pembangunan gedung gereja yang terdiri dari empat lantai ini dimulai pada tahun 2006, dengan desain yang mampu menampung sekitar 1.500 jemaat. 

Pembangunan selesai pada awal 2009, dan pada tanggal 17 Januari 2009 gereja ini secara resmi diberkati oleh Kardinal Julius Darmaatmadja, yang saat itu menjabat sebagai Uskup Agung Jakarta. Saat itu, Gereja Santa Maria Regina masih berstatus stasi di bawah wilayah paroki Bintaro. Namun, seiring dengan pertumbuhan komunitas dan kebutuhan pelayanan pastoral yang semakin besar, gereja ini kemudian resmi ditetapkan sebagai paroki penuh hanya setahun setelahnya. Momen penting ini terjadi pada tanggal 22 Agustus 2010, ketika Kardinal Ignatius Suharyo, Uskup Agung Jakarta saat ini, secara resmi menyatakan gereja ini sebagai paroki mandiri.

Panel ini menggambarkan suasana saat Misa Pembukaan  Porta Sancta 

Doa Tahun Yubileum dan doa sebelum memasuki Pintu Suci tersedia di sini

Sosok Santa Maria Ratu Sebagai Pelindung Gereja

Tanggal 22 Agustus diperingati oleh Gereja Katolik Roma sebagai Hari Raya Santa Maria Regina (Santa Maria Ratu). Perayaan ini menyoroti peran mulia Maria sebagai Ratu, tidak hanya di surga tetapi juga atas seluruh ciptaan, dalam perannya yang unik dalam rencana keselamatan. Gelar Maria sebagai Ratu ini berakar pada Kitab Suci dan tradisi Gereja, dan secara resmi ditegaskan dalam Paragraf 59 Lumen Gentium—Konstitusi Dogmatis tentang Gereja dari Konsili Vatikan II. Dokumen ini, khususnya Bab VIII yang berjudul “Perawan Maria yang Dikuduskan, Bunda Allah, dalam Misteri Kristus dan Gereja,” membahas peran Maria dalam sejarah keselamatan, menekankan bagaimana ia diangkat baik tubuh maupun jiwanya ke dalam kemuliaan surga dan dimahkotai sebagai Ratu alam semesta oleh Putranya, Yesus Kristus. Setelah Konsili Vatikan II dan reformasi kalender liturgi, Gereja memindahkan perayaan ini ke tanggal 22 Agustus, tepat satu minggu setelah Hari Raya Santa Maria Diangkat ke Surga (15 Agustus). Penempatan baru ini menegaskan hubungan erat antara Pengangkatan Maria ke surga dan pengangkatan-Nya sebagai Ratu.

Perjalanan ke Emaus diawai keraguan dan diakhiri dengan wahyu Ilahi

Gereja Paroki Bintaro Jaya adalah ruang suci untuk doa dan persekutuan

Menelusuri Jalur Perziarahan Porta Sancta

Paroki ini ternyata salah satu yang paling ramah yang pernah saya temui selama perjalanan mengunjungi sejumlah gereja dalam ziarah Tahun Yubelium 2025 ini. Sejak kami tiba di Gereja Santa Maria Regina, kami disambut dengan hangat oleh tim sukarelawan paroki yang bertugas yang terlihat sudah mempersiapkan kunjungan para peziarah dengan baik. Salah satu petugas meluangkan waktu untuk menjelaskan makna Tahun Yubelium 2025 dan dengan penuh perhatian membimbing kami melalui titik-titik ziarah utama di area gereja. Setiap tempat, mulai dari Porta Sancta (Pintu Suci) hingga titik-titik doa yang telah ditetapkan, dijelaskan dengan rinci dan penuh makna—membantu kami tidak hanya untuk mengenal area gereja, tapi juga agar bisa merasakan pengalaman spiritual yang lebih dalam. Paroki ini bahkan menyediakan panduan doa yang dibacakan sebelum dan setelah melewati Porta Sancta, sebuah perhatian khusus yang menunjukkan komitmen mereka untuk memastikan setiap pengunjung baik dari paroki sekitar maupun dari berbagai daerah di keuskupan merasa diterima, mendapat informasi lengkap, dan diberkati secara rohani.

Jangkar iman berdiri teguh, melambangkan harapan akan Kristus di tengah badai kehidupan

Desain modern memadukan kehangatan dan rasa khidmat dalam harmoni logam dan cahaya

Perjalanan di Berbagai Titik Ziarah Gereja

Di antara banyak elemen bermakna yang terdapat di Gereja Santa Maria Regina, salah satu yang paling menonjol adalah diorama tembaga yang indah menggambarkan Perjalanan ke Emaus, yang dipasang di sepanjang tangga menuju aula utama. Karya seni ini menggambarkan momen dalam Injil Lukas, ketika Yesus yang bangkit menampakkan diri kepada dua murid-Nya yang sedang berjalan menuju desa Emaus. Awalnya, mereka tidak mengenali-Nya, karena mata mereka seolah tertutup sehingga tidak dapat melihat siapa Dia sebenarnya. Baru kemudian, saat Ia memecah-mecahkan roti bersama mereka, mereka menyadari bahwa mereka telah berjalan bersama Tuhan yang telah bangkit—sebuah momen yang kaya akan makna teologis dan simbolisme Ekaristi. 

Bagi mereka yang mencari suasana tenang untuk refleksi pribadi, Kapel Santo Yohanes menyediakan ruang yang lebih sunyi untuk berdoa secara pribadi. Karena Gua Maria di bagian depan gereja saat ini sedang dalam tahap renovasi, patung Santa Perawan Maria telah dipindahkan ke rubanah (basement) agar umat dan pengunjung tetap dapat melanjutkan devosi mereka. Sayangnya, karena hujan deras yang tiba-tiba datang saat kunjungan kami akan berakhir, kami tidak sempat menjelajahi taman doa dan Jalan Salib luar ruang seperti yang direncanakan sebelumnya. Meskipun demikian, semangat keramahan umat paroki dan kedalaman ruang-ruang sakral di gereja ini meninggalkan kesan yang mendalam, menjadikan kunjungan ini tetap memperkaya secara rohani meski cuaca tidak mendukung.



Paroki Bintaro Jaya
Gereja Santa Maria Regina

Lokasi Jalan MH Thamrin Kav B2 No 03, CBD Bintaro Jaya Sektor 7, Tangerang Selatan, Banten 

Weekly Mas Schedule
Sabtu, 06.30 WIB
Minggu, 06.00 WIB, 08.30 WIB, 16.30 WIB







Comments