Menyusuri Jejak Salah Satu Chinatown Terbesar di Dunia
Hanya beberapa hari setelah menjelajahi semaraknya Chinatown di Singapura, saya kembali menyusuri kawasan Pecinan yang tak kalah hidup — kali ini di Bangkok, Thailand. Chinatown atau kawasan Pecinan dapat ditemukan di berbagai kota besar di seluruh dunia sebagai kantong etnis bagi komunitas Tionghoa di luar wilayah Tiongkok Raya. Banyak di antaranya memiliki akar sejarah yang sangat panjang. Salah satu yang tertua adalah Binondo di Manila, Filipina, yang diakui sebagai Chinatown tertua di dunia dan telah berdiri sejak tahun 1594. Sementara itu, Chinatown di Bangkok mulai terbentuk pada tahun 1782, bertepatan dengan berdirinya kota ini sebagai ibu kota Kerajaan Rattanakosin.
Awalnya, komunitas Tionghoa bermukim di kawasan Sampheng. Namun seiring waktu, pusat aktivitas Chinatown bergeser ke Jalan Yaowarat, yang kini menjadi urat nadi kawasan ini. Karena peran pentingnya, banyak orang kini menyebut kawasan Pecinan Bangkok cukup dengan nama “Yaowarat”, meskipun area Chinatown sebenarnya mencakup wilayah yang lebih luas — termasuk Sampheng, Charoen Chai, Talat Noi, dan Song Wat. Dengan luas sekitar dua kilometer persegi, Chinatown Bangkok kerap dianggap sebagai salah satu kawasan Pecinan terbesar di dunia, bukan hanya dari segi ukuran, tetapi juga dalam kekayaan budaya, sejarah, serta aktivitas ekonomi dan kulinernya yang begitu hidup.
 |
Jalan Yaowarat ini merupakan jalan utama di kawasan Pecinan yang terbesar di dunia ini
|
 |
| Gerbang Chinese Gate di Bundaran Odeon ini menandakan gerbang masuk kawasan Pecinan di Bangkok |
Awal Mula Pecinan Bangkok Dari Sampheng ke Yaowarat
Sejarah panjang Pecinan Bangkok tidak bisa dilepaskan dari dinamika politik Thailand pada akhir abad ke-18. Setelah Kerajaan Ayutthaya runtuh tahun 1767, pusat kekuasaan berpindah ke Thonburi yang berada di tepi barat Sungai Chao Phraya. Raja Taksin, yang memerintah saat itu, dikenal memiliki hubungan erat dengan etnis Tionghoa, khususnya kelompok Teochew. Ia pun mempercayakan mereka untuk memasok kebutuhan ibu kota yang baru, dan memberikan sebidang tanah di tepi timur sungai yang tepat berseberangan dengan istana kerajaan dan dilindungi oleh tembok kota. Namun, situasi berubah drastis pada tahun 1782 saat Raja Taksin digulingkan. Penguasa baru, Raja Rama I, mendirikan Kerajaan Rattanakosin dan memilih untuk memindahkan pusat pemerintahan ke sisi timur sungai yang dianggap lebih strategis.
Untuk membangun istana kerajaan yang baru, area tempat tinggal pemukim Tionghoa pun harus digusur. Mereka kemudian dipindahkan ke wilayah Sampheng, yang terletak di luar tembok kota lama. Meski dipindahkan, komunitas Teochew tetap bertahan dan justru berkembang pesat. Semangat kerja keras dan ketekunan mereka menarik banyak imigran Tionghoa lainnya, baik dari Teochew maupun kelompok etnis lain, yang datang ke Bangkok demi mencari kehidupan yang lebih baik. Memasuki abad ke-19, pada masa pemerintahan Raja Rama V, pembangunan infrastruktur mulai digalakkan di wilayah ini. Salah satu yang paling berpengaruh adalah dibukanya Jalan Yaowarat, yang kemudian menjelma menjadi jantung ekonomi kota. Selama lebih dari satu abad setelahnya, kawasan ini dikenal luas sebagai pusat perdagangan utama di Bangkok.
 |
| Lampu-lampu neon ikonik di Yaowarat mulai menyala semarak saat matahari mulai terbenam |
 |
| Kawasan yang banyak dikunjungi wisatawan ini mencapai puncak aktivitasnya sekitar pukul 7 sampai 8 malam |
Transformasi Dari Pusat Dagang Menjadi Destinasi Budaya
Memasuki abad ke-20, Bangkok mulai berkembang pesat dengan munculnya berbagai kawasan bisnis baru di penjuru kota. Hal ini membuat peran Chinatown sebagai pusat niaga utama perlahan tergeser. Meski demikian, kawasan ini tidak kehilangan daya tariknya. Sebaliknya, Chinatown justru menemukan kembali identitasnya sebagai destinasi budaya yang ramai, baik bagi wisatawan maupun warga lokal. Kekayaan warisan budaya Tionghoa-Thai, kerajinan tradisional, kuliner kaki lima, hingga bangunan khas etnis Tionghoa menjadi daya tarik utamanya. Salah satu simbol paling ikonik di area ini adalah Gerbang Cina yang terletak di Bundaran Odeon. Gerbang ini kini menjadi pintu gerbang simbolis menuju Jalan Yaowarat dan kawasan Pecinan Bangkok. Letaknya berada tepat di seberang Wat Traimit yang terkenal dengan patung Buddha Emas-nya. Dibangun pada tahun 1999 untuk menggantikan air mancur yang sebelumnya berada di bundaran tersebut, gerbang ini memiliki dua sisi di mana sisi depan bertuliskan dedikasi dalam bahasa Thai untuk menghormati Raja, sedangkan sisi belakang memuat tulisan yang sama dalam bahasa Mandarin, menjadi sebuah cerminan nyata dari perwujudan identitas dua budaya kawasan ini.
Peresmian gerbang ini dilakukan pada tanggal 5 Desember 1999 oleh Putri Maha Chakri Sirindhorn, adik perempuan Raja Vajiralongkorn. Untuk menghormati pentingnya kawasan ini dalam sejarah hubungan Thailand-Tiongkok, pemerintah Tiongkok turut menyumbangkan dua patung singa giok putih yang kini berjaga di sisi kiri dan kanan gerbang. Pemberian ini dilakukan untuk memperingati ulang tahun ke-80 Raja Bhumibol pada tahun 2007. Empat tahun kemudian, hadiah lain diberikan berupa patung kelinci giok putih—simbol shio kelinci yang menandai tahun kelahiran Sang Raja, sekaligus memperingati ulang tahun ke-84 beliau. Menariknya, banyak orang percaya bahwa jika dilihat dari atas, Jalan Yaowarat membentuk siluet seperti tubuh naga—simbol keberuntungan dalam budaya Tionghoa—dengan Bundaran Odeon dianggap sebagai kepala sang naga. Pandangan ini memperkuat citra Yaowarat bukan hanya sebagai pusat kegiatan, tetapi juga sebagai ruang penuh makna simbolik dan spiritual bagi komunitasnya.
 |
Berbagai toko obat, tekstil, perhiasan emas dan pernak-pernik tradisional dapat dijumpai di kawasan ini
|
 |
Yaowarat saat ini adalah surga kuliner jalan yang menjual berbagai macam makanan khas Thailand
|
Toko Emas dan Surga Kuliner
Hingga kini, Chinatown di Bangkok tetap menjadi pusat aktivitas perdagangan yang sibuk, terutama dikenal sebagai kawasan utama penjualan emas di kota ini. Toko-toko emas dan perhiasan berjajar rapat di sepanjang Jalan Yaowarat, sebagian besar dikelola oleh keluarga-keluarga yang telah menjalankan bisnis ini secara turun-temurun selama beberapa generasi. Selain emas, kawasan ini juga dipenuhi dengan toko obat herbal Tiongkok, apotek tradisional, toko kain, kios suvenir, serta deretan kafe dan dessert bar kekinian yang terus bertambah jumlahnya. Namun, salah satu daya tarik paling khas dari Chinatown saat ini adalah suasana kulinernya yang hidup, terutama di malam hari. Sekitar pukul 4 atau 5 sore, para pedagang kaki lima mulai menata gerobak dan perlengkapannya di sepanjang trotoar, bersiap menyambut pengunjung yang memadati kawasan ini menjelang malam.
Saat langit mulai gelap, lampu-lampu neon warna-warni menyala dan menghiasi jalanan, menciptakan suasana semarak yang begitu khas di sepanjang Yaowarat. Menjelang malam, seluruh kawasan pun berubah menjadi pasar makanan terbuka yang ramai, dipenuhi pengunjung lokal maupun turis mancanegara yang ingin mencicipi ragam sajian lezat. Mulai dari pad thai (mi goreng khas Thailand), seafood bakar, roti panggang renyah ala Thailand, hingga makanan penutup seperti mango sticky rice dan som tam (salad pepaya muda) yang legendaris. Bagi banyak wisatawan, pengalaman menyantap street food di Chinatown bukan sekadar makan malam, melainkan salah satu momen berkesan dalam perjalanan mereka di Bangkok.
 |
| Klenteng Kuan Yim di Yayasan Thian Fah ini adalah salah satu klenteng yang ada di kawasan Pecinan ini |
Warisan Spiritual dan Hiruk Pikuk Pasar Tradisional
Di balik semarak wisata kuliner dan gemerlap lampu jalanan, Chinatown Bangkok juga menyimpan kekayaan budaya dan spiritual yang kuat. Kawasan ini dipenuhi dengan kuil dan kelenteng yang menjadi tempat ibadah komunitas Tionghoa-Thai sejak dulu. Aroma dupa dan suasana hening dalam doa menjadi bagian tak terpisahkan dari pengalaman berjalan kaki di sini. Salah satu yang paling menonjol adalah Wat Mangkon Kamalawat—kuil Buddha Tionghoa terbesar dan tersibuk di Bangkok. Kuil ini menjadi pusat perayaan saat festival-festival besar seperti Tahun Baru Imlek, menarik ribuan umat dan pengunjung setiap tahunnya. Namun di luar itu, banyak pula kuil kecil dan altar tersembunyi di antara toko-toko dan gang-gang sempit, yang didedikasikan untuk berbagai dewa-dewi Tionghoa. Tempat-tempat ini sering luput dari perhatian, tetapi justru menjadi jendela untuk memahami kehidupan spiritual yang melekat kuat dalam komunitas ini.
Selain sisi religius, denyut kehidupan sehari-hari juga terasa sangat nyata di Pasar Sampeng yang merupakan salah satu pasar tertua di Bangkok yang telah eksis sejak awal kedatangan imigran Tionghoa. Lorong-lorong sempitnya penuh sesak dengan kios-kios kecil yang menjajakan aneka barang, mulai dari kain, pita, dan perlengkapan menjahit, hingga aksesori fesyen, mainan anak, pernak-pernik pesta, dan tas-tas lucu. Meski sempit dan padat, pasar ini tetap menjadi tempat favorit para pembeli grosir, pedagang eceran, maupun warga lokal yang mencari harga murah dan pilihan beragam. Gabungan antara sisi spiritual dan komersial ini menjadikan Chinatown Bangkok bukan hanya tempat wisata, tapi juga cerminan nyata dari warisan budaya Tionghoa yang terus berkembang dan beradaptasi di tengah modernitas kota.
Cara Menuju Chinatown Bangkok
Cara paling praktis untuk mencapai kawasan Chinatown adalah dengan naik MRT Blue Line dan turun di Stasiun Wat Mangkon. Begitu keluar dari stasiun, Anda langsung berada di jantung Chinatown—dekat dengan Jalan Yaowarat, deretan kedai makanan kaki lima, serta berbagai kuil dan kelenteng. Namun, jika Anda ingin memulai kunjungan dari gerbang ikonik Chinatown—yaitu Gerbang Cina di Bundaran Odeon, Wat Traimit, dan patung Buddha Emas—maka pilihan terbaik adalah turun di Stasiun Hua Lamphong. Dari sana, Anda hanya perlu berjalan kaki sebentar untuk tiba di area gerbang, di mana petualangan Anda bisa diawali dengan nuansa sejarah dan spiritual sebelum menyusuri jalanan yang ramai dan penuh warna di sekitarnya.
Sore hingga malam hari saat saya menjelajahi kawasan ini, saya kerap berpapasan dengan wisatawan asal Indonesia. Ada yang datang berombongan, ada yang bersama keluarga, dan tak sedikit pula pasangan yang tampak menikmati suasana berdua. Apakah Anda datang demi mencicipi kuliner khas, menikmati kekayaan budaya, atau sekadar merasakan atmosfer yang hidup, Chinatown Bangkok menawarkan pengalaman yang begitu kaya dan berkesan—tak tertandingi oleh tempat lain di kota ini.
Jalan Yaowarat (Chinatown Bangkok)
ถนนเยาวราช
Lokasi Yaowarat Road, Samphanthawong, Bangkok, Thailand
Jam Buka
Setiap hari, 24 jam (area publik)
Toko dan tempat makan di sekitar mungkin memiliki jam operasional masing-masing
Comments
Post a Comment