Gereja Katolik Penting Pada Saat Saya Tinggal di Malang
Salah satu gereja Katolik yang paling berpengaruh dalam masa kecil saya di Malang adalah Katedral Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel. Warga setempat lebih akrab menyebutnya dengan Katedral Ijen atau Gereja Ijen, karena bangunannya berdiri di pintu masuk Jalan Besar Ijen, salah satu boulevard bersejarah di kota ini. Katedral yang megah ini merupakan bagian dari warisan kolonial di Malang yang dibangun sejak masa pemerintahan Hindia Belanda. Kini, ia menjadi takhta Uskup Malang sekaligus telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya oleh pemerintah kota pada tahun 2018, baik karena nilai arsitekturnya maupun peran rohaninya bagi umat Katolik di kota Malang. Seperti halnya Katedral Surabaya yang sebenarnya bukan merupakan gereja Katolik tertua di kota itu, Katedral Malang juga bukanlah gereja tertua di Malang. Walaupun demikian, posisinya kini telah menjadi menjadi gereja induk bagi Keuskupan Malang.
 |
| Katedral Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel adalah gereja induk dari Keuskupan Malang |
 |
| Sejak pertama kali dibuka pada tahun 1934, Gereja Ijen ini menjadi cagar budaya yang penting di Kota Malang |
Sejarah Awal Katedral Ijen
Katedral Ijen dibangun pada tahun 1934 sebagai pemekaran dari Gereja Hati Kudus Yesus di Kayutangan yang lebih dulu berdiri sejak tahun 1905. Setelah masa pembangunan yang kurang dari satu tahun, gereja baru ini diberkati pada tanggal 28 Oktober 1934 dengan nama Theresiakerk atau Gereja Santa Theresia. Nama tersebut terus digunakan hingga tahun 1961, ketika secara resmi diganti menjadi Katedral Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel.
Tak lama setelah katedral berdiri, Boulevard Ijen mulai dibangun untuk menghubungkan gereja ini dengan alun-alun kota Malang dan berbagai kawasan lain yang semakin berkembang. Sejak masa kolonial, boulevard ini identik dengan prestise, dihiasi rumah-rumah megah dan deretan pohon palem yang menjulang. Pada masa Hindia Belanda pula, kawasan Ijen bahkan terkenal eksklusif karena aksesnya dibatasi bagi warga pribumi dan dikhususkan hanya bagi warga dari Eropa. Hingga kini, lingkungan di sekitar katedral masih dipenuhi rumah-rumah bergaya kolonial, banyak di antaranya tetap terawat dengan ciri khas arsitektur New Indies.
 |
Gereja ini dirancang dengan gaya Art Deco yang simetris dengan sentuhan aliran Neo-Gotik
|
 |
| Gereja ini menjalani renovasi pada tahun 2002, dengan tetap mempertahankan warisan arsitektur aslinya |
Arsitektur dan Interior Katedral Ijen
Dirancang oleh arsitek Belanda R. Rijksen dan Henri Louis Joseph Marie Estourgie, Katedral Ijen memadukan gaya aliran Art Deco dengan sentuhan Neo-Gotik yang disederhanakan. Berbeda dengan gereja bergaya Neo-Gotik yang kaya akan detail pahatan, fasad katedral ini tampil lebih sederhana, menonjolkan simetri dan proporsi geometris. Dua menara kembar menjulang di bagian depan, sementara sebuah jendela kaca patri bundar (rose window) menjadi pusat perhatian. Bangunan utama berdiri menonjol di sudut jalan, dengan pintu masuk menghadap langsung ke arah jalan raya—begitu dekat sehingga, jika bukan karena taman kecil di depannya, pintu-pintu gereja ini seolah terbuka langsung ke trotoar. Di atas rose window, tampak tulisan “IHS”, sebuah kristogram dari nama Yunani Yesus yang menandakan kehadiran-Nya di tempat ini. Pada menara sebelah kiri, sebuah jam sederhana terpasang tepat di bawah atap runcing, seakan menjadi penanda waktu bagi umat maupun pejalan kaki yang melintas.
Memasuki bagian dalam gereja, pengunjung disambut dengan suasana hening dan khidmat. Lengkung-lengkung runcing menjulang membentuk langit-langit berkubah, mengarahkan pandangan ke atas dalam doa yang tenang. Cahaya matahari menembus kaca patri di dinding atas, memantulkan warna lembut ke deretan bangku kayu yang berjajar di panti umat. Lampu gantung menghiasi langit-langit, menerangi jalan menuju altar yang dihiasi bunga dan simbol-simbol suci. Dengan kapasitas sekitar 700 orang, katedral ini mampu menampung komunitas Katolik yang terus bertumbuh di Malang, sekaligus menjaga suasana akrab dan penuh devosi.
 |
Selama puluhan tahun, katedral ini dilayani oleh para imam dari kongregasi Ordo Karmel
|
 |
| Dengan kapasitas 700 orang, katedral ini menjadi saksi bertumbuhnya umat Katolik di Malang |
Gua Maria dan Kehidupan Rohani Katedral
Setelah menjelajahi bagian dalam katedral, saya kemudian berjalan menuju Gua Maria yang berdiri di samping bangunan gereja. Gua Maria ini dibangun di atas taman bertingkat dengan tangga batu, sehingga menghadirkan simbolisasi Gunung Karmel asal Santa Perawan Maria, pelindung katedral ini. Di seberang jalan berdiri pula kantor paroki yang dikenal sebagai Widya Bhakti, pusat administrasi kehidupan paroki sehari-hari. Keduanya membentuk lanskap sakral sekaligus komunal, di mana devosi dan pelayanan umat berpadu.
Kehidupan rohani Katedral Ijen sejak lama dipercayakan kepada Ordo Karmel, yang telah melayani umat sejak katedral ini berdiri pada tahun 1934. Kehadiran mereka dimulai pada 1923, ketika para misionaris Jesuit—yang pertama kali tiba di Malang pada 1865—menyerahkan tugas penggembalaan umat Katolik yang semakin berkembang kepada para Karmelit. Empat tahun kemudian, Malang ditetapkan sebagai Prefektur Apostolik yang pertama di luar Batavia, dan akhirnya menjadi Keuskupan Malang pada tahun 1961. Meski ikatan Karmelit tetap kuat—bahkan uskup Malang sejak awal berasal dari Ordo Karmel—paroki kini dikelola oleh imam diosesan. Bersama-sama, mereka terus membimbing umat dari katedral ini, menjaga warisan devosi kepada pelindungnya, Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel.
 |
| Gua Maria di samping gereja ini ditinggikan untuk mencerminkan Gunung Carmel dan devosi kepada Bunda Maria |
 |
| Di seberang jalan, Gedung Widya Bhakti menjadi kantor kegiatan pelayanan Paroki Katedral Malang |
Koneksi Pribadi dengan Katedral Ijen dan Ordo Karmel
Hubungan saya dengan Ordo Karmel tidak berhenti pada katedral semata. Semasa sekolah di Malang, saya menempuh pendidikan di sebuah SMA Katolik yang dikelola oleh para imam Karmel. Sekolah yang letaknya tak jauh dari Katedral Ijen itu menjadi rumah kedua bagi iman dan pembelajaran saya. Katedral dan sekolah tersebut bersama-sama membentuk kehidupan Katolik saya sejak dini, menanamkan devosi rohani sekaligus disiplin harian di bawah bimbingan para Karmelit.
Kini, katedral ini bukan hanya pusat rohani, tetapi juga telah diakui sebagai cagar budaya, sebuah saksi warisan arsitektur kolonial di Malang. Namun, lebih dari sekadar kemegahan bangunan bersejarah, ia tetap menjadi jantung kehidupan komunitas Katolik di Malang, yang dipelihara oleh semangat Ordo Karmel dan diperkaya oleh devosi kepada Bunda Maria. Bagi saya, kehadirannya tak terpisahkan dari perjalanan iman pribadi dari masa sekolah yang dibimbing oleh para imam Karmel. Katedral ini berdiri bukan sekadar sebagai bangunan, melainkan sebagai simbol kesinambungan: tempat di mana sejarah, devosi, dan kenangan pribadi bertemu.
Paroki Katedral St. Perawan Maria dari Gunung Karmel
Katedral Ijen Malang
Lokasi Jl. Buring No 60, Oro-oro Dowo, Klojen, Malang, Jawa Timur
Jadwal Misa Mingguan
Sabtu, 16.30 WIB, 18.30 WIB
Minggu, 05.30 WIB, 07.30 WIB, 16.30 WIB, 18.30 WIB
Comments
Post a Comment