Skip to main content

Featured

[ID] Menapaki Lagi Jejak di Gunung Bromo: Kembali ke Pesona Alam Tengger

Malang vs Probolinggo: Gerbang Menuju Bromo Bagi banyak pelancong, baik domestik maupun mancanegara, Malang bukan sekadar kota wisata. Kota ini sering menjadi titik awal perjalanan tak terlupakan menuju Gunung Bromo, salah satu destinasi paling ikonik di Pulau Jawa. Gunung berapi legendaris ini bahkan dikenal luas sebagai salah satu daya tarik wisata paling terkenal di Indonesia. Bromo sendiri merupakan gunung berapi aktif yang terdapat di tengah Kaldera Tengger, yang berada dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru—sebuah bentang alam yang dilindungi dan mencakup empat kabupaten di Jawa Timur, yaitu Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Malang. Perjalanan darat dari Malang menuju Gunung Bromo memang memakan waktu sekitar tiga jam. Namun, banyak wisatawan tetap memilih Malang sebagai basis perjalanan karena kota ini menawarkan pilihan hotel yang lebih beragam, kuliner yang variatif, serta suasana kota yang hidup.  Sebagai perbandingan, Probolinggo memberikan akses lebih cepa...

[ID] Wisata Rasa Malang, Dari Jalanan Hingga Lounge Elegan

Masa kecil hingga awal masa dewasa saya banyak dihabiskan di Kota Malang, dan bagi saya kuliner kota ini bukan sekadar soal rasa, melainkan juga bagian dari kenangan saya. Saya masih bisa membayangkan kelembutan ayam goreng rempah buatan nenek, kepiting bumbu rujak yang manis pedas, hingga krecek berkuah santan yang gurih . Meski ibu saya tidak mewarisi sepenuhnya keahlian memasak nenek, saya tetap merindukan hidangan rumahan sederhananya, mulai dari sepiring nasi goreng hangat, telur dadar dengan irisan cabai dan bawang merah, atau tumisan ikan peda asin. Kini, dengan keduanya telah tiada, cita rasa itu hanya hidup dalam ingatan.

Saat kembali ke Malang beberapa waktu lalu, saya sengaja menelusuri tempat-tempat yang membangkitkan rasa yang sama, baik lewat sajian yang tersaji maupun lokasi yang pernah saya kunjungi bersama keluarga. Inilah beberapa titik kuliner yang saya singgahi: mulai dari warung mi legendaris, destinasi comfort food yang selalu menenangkan, lounge keren dengan pemandangan padang golf yang hijau, hingga pasar tradisional yang menyajikan jajanan lokal yang tak lekang oleh waktu.

Hot Cui Mie dikenal menghadirkan sentuhan modern pada semangkuk cwie mie klasik khas kota ini

Hot Cui Mie Malang
Semangkok Mi Ikonik dengan Sentuhan Rasa Kekinian

Salah satu destinasi kuliner yang hampir tak pernah saya lewatkan saat pulang ke Malang adalah Hot Cui Mie. Berawal dari sebuah kedai sederhana di Jalan Kawi Atas, tempat ini menghadirkan modifikasi kreatif dari hidangan klasik cwie mie Malang di bawah naungan Gloria Group. Usaha keluarga legendaris ini sesungguhnya telah ada sejak 1970-an, yang dimulai dari pabrik mi rumahan yang kemudian berkembang menjadi Rumah Makan Gloria—restoran chinese food ternama sekaligus salah satu favorit keluarga saya. Pada tahun 2000, lahirlah Hot Cui Mie sebagai inovasi baru dari cwie mie tradisional yang umumnya berupa mi kenyal dengan topping ayam cincang gurih, selada segar, pangsit goreng renyah, dan kuah kaldu ayam yang ringan.

Keunikan Hot Cui Mie terletak pada keberaniannya untuk mengubah resep klasik menjadi hidangan yang lebih kekinian. Hidangan disajikan dalam mangkuk pangsit goreng, dengan topping ayam cincang diganti potongan ayam goreng tepung yang renyah, lalu disiram saus cabai asam manis yang pedas. Selain varian ayam crispy ini, tersedia pula pilihan topping lain seperti jamur, ikan kakap, hingga udang yang masing-masing memberi karakter berbeda pada semangkuk mi ini. Tak hanya itu, menu lain berupa mi dan beragam chinese food halal juga menambah daya tariknya, menjadikan Hot Cui Mie pilihan tepat untuk keluarga maupun rombongan.

Kini Hot Cui Mie telah berkembang menjadi jaringan kecil di Malang. Dari kedai awal di Jalan Kawi Atas, kemudian membuka cabang di Jalan S. Parman, hingga hadir di dua pusat perbelanjaan besar kota: MOG (Malang Olympic Garden) dan Matos (Malang Town Square). Di sana, para pengunjung bisa dengan mudah menikmati semangkuk mi ikonik yang penuh cerita ini.

Lokasi Malang Olympic Garden (MOG), Jl Kawi No.20, Klojen, Malang, Jawa Timur

Jam Operasional
Setiap hari, 10.00 WIB - 22.00 WIB

Harga
Hot Cui Mie (ayam) Rp 41.000
Lumpia Udang (kecil) Rp 27.000


Rawon Tessy adalah salah satu warung legendaris di Malang yang menyajikan masakan khas Jawa Timur

Rawon Tessy
Kenikmatan Kuliner Jawa Timur di Dekat Stasiun Malang

Selain nasi pecel sayur dengan sambal kacang dan rempeyek renyah yang juga saya nikmati di Surabaya, hidangan ikonik lain dari Jawa Timur adalah rawon. Sup daging sapi ini mudah dikenali dari kuahnya yang pekat kehitaman, berasal dari keluak yang memberi rasa khas beraroma tanah. Rawon bahkan kerap dipuji oleh TasteAtlas sebagai salah satu sup lokal terbaik dunia. Lebih dari sekadar comfort food Jawa Timur, rawon adalah warisan kuliner yang jejaknya dapat ditelusuri hingga masa Kerajaan Majapahit (abad ke-13–16). Kerajaan Hindu-Buddha yang pernah menguasai sebagian besar wilayah Nusantara bahkan menjangkau kawasan Asia Tenggara ini meninggalkan bukan hanya candi dan karya sastra, tetapi juga cita rasa yang bertahan lintas abad. Setiap mangkuk rawon dengan kuah hitamnya seakan menjadi penghubung antara masa kini dengan kejayaan Majapahit dan kekayaan tradisi kuliner Jawa.

Di Malang, ada banyak rumah makan dan warung-warung yang menyajikan rawon, namun salah satu yang paling ikonik adalah Rawon Tessy, yang terletak di kawasan kuliner di samping Stasiun Kereta Malang. Kunjungan pertama saya ke tempat ini benar-benar memuaskan karena sesuai dengan reputasinya. Seporsi rawon dan pecel sayur disajikan bersama nasi putih hangat, ditemani aneka lauk gorengan tradisional seperti empal, paru goreng, tempe, perkedel kentang, hingga mendol khas Malang. Cara penyajian seperti ini memang khas Jawa Timur di mana  pengunjung disuguhi deretan lauk tambahan, lalu membayar sesuai dengan yang diambil. Jadilah setiap santapan ini terasa lebih personal dalam kebersamaan.

Lokasi Jl Trunojoyo, Klojen, Malang, Jawa Timur

Jam Operasional
Setiap hari, 07.00 WIB - 22.00 WIB

Harga
Nasi Rawon Rp 31.000
Nasi Pecel Sayur Rp15.000
Perkedel Rp 7.000
Mendol Rp 5.000


Di Pasar Oro-Oro Dowo, bakso goreng renyah ini menjadi salah satu primadona yang menimbulkan antrian panjang

Antrean panjang ini membuktikan betapa para pengunjung begitu antusias mencicipi lumpur kentang wolak-walik

Pasar Oro Oro Dowo
Pasar Tradisional dengan Jajanan Pasar Nostalgia

Usai berkunjung ke Katedral Ijen, saya singgah di Pasar Oro-Oro Dowo, pasar tradisional yang dibangun pada tahun 1932 oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Setelah direvitalisasi pada tahun 2015, bangunan aslinya tetap dipertahankan, namun suasana pasar kini terasa lebih bersih dan nyaman tanpa kehilangan kesederhanaan dan nilai historisnya. Selain kebutuhan harian seperti buah, sayur, daging, ikan, dan telur, pasar ini belakangan juga menjadi destinasi kuliner bagi para wisatawan lokal yang ingin mencicipi jajanan tradisional dari berbagai kios yang ada.

Kali ini saya memanjakan diri dengan camilan dari beberapa kios yang sedang viral di media sosial, bukti sentuhan teknologi modern yang berpadu dengan pesona klasik pasar tradisional. Persinggahan pertama saya adalah Bakso Goreng Ayam Bangkit yang terkenal dengan bakso ayam gorengnya. Wlalaupun antrean begitu panjang, dua wajan besar terus menggoreng adonan demi adonan hingga menghasilkan bakso goreng keemasan yang renyah di luar, lembut di dalam. Sejak dulu bakso goreng adalah salah satu camilan favorit saya. Kontras antara kulit yang garing dan bagian dalam yang lembut, apalagi dengan cololan sambal asam manis pedas, membuat saya benar-benar paham mengapa banyak orang rela menunggu demi sajian sederhana ini.

Setelah puas dengan bakso goreng, saya beralih untuk mencari jajanan manis, yaitu lumpur kentang wolak-walik dari kios populer Lumpur Kentang 27. Antreannya tak kalah panjang, bukti betapa jajanan lembut mirip puding ini digemari pengunjung. Sesuai namanya, lumpur kentang memiliki tekstur lembut dan basah, lebih menyerupai puding daripada kue padat, sehingga terasa begitu menenangkan. Konon, kudapan tradisional ini mendapat pengaruh dari pastel de nata yang dibawa bangsa Portugis ke Nusantara. Dibuat dari kentang, tepung, santan, dan telur, versi modern di kios ini dipanggang bolak-balik—itulah asal nama wolak-walik dalam bahasa Jawa. Hasilnya adalah kue lembut beraroma harum dengan lapisan keemasan di kedua sisi, menghadirkan perpaduan indah antara tradisi dan teknik kekinian.

Lokasi Jl Guntur No 20, Klojen, Malang, Jawa Timur

Jam Operasional
Setiap hari, 05.00 WIB - 17.00 WIB

Harga
Bakso Goreng Ayam Bangkit
Bakso goreng ayam (5 pcs) Rp 17.500
Setiap hari, 06.30 WIB to 13.00 WIB

Lumpur Kentang 27
Lumpur kentang wolak-walik (1 biji) Rp 7.000
Setiap hari, 07.00 WIB to 11.00 WIB

Djati Lounge menggabungkan gaya modern minimalis dengan sentuhan tradisional yang elegan

Paviliun Djati Lounge yang luas dan nyaman ini terinspirasi dari arsitektur Joglo khas Jawa 

Angin semilir berhembus di area samping kolam dengan pemandangan padang golf yang hijau ini

Djati Lounge
Tempat Nongkrong Modern di Ujung Padang Golf

Kuliner Malang tidak hanya terbatas pada warung sederhana atau restoran legendaris karena kota ini juga hidup lewat deretan kafe. Dari angkringan tradisional yang meracik minuman hangat hingga larut malam di pinggiran jalan, kafe bertema unik yang instagrammable, sampai lounge elegan dengan panorama kota, semuanya memberi warna berbeda bagi gaya hidup modern di Malang. Salah satu lokasi upscale yang patut dikunjungi adalah Djati Lounge, yang berlokasi di dalam kompleks perumahan Araya. Tempat ini menghadirkan suasana kontemporer dengan pemandangan lapangan golf yang tenang, memadukan elemen tradisional Jawa dengan desain modern, sehingga populer baik untuk santap santai maupun pertemuan bisnis.

Agak masuk ke dalam kompleks perumahan Araya, Djati Lounge menyambut dengan perpaduan tradisi dan modernitas. Paviliun kayu bergaya Joglo berdiri anggun di tengah kolam refleksi yang mewah, sementara area duduk di tepi kolam terbuka langsung ke hamparan hijau lapangan golf menjadi harmoni indah antara warisan budaya dan gaya hidup leisure. Karena perut saya masih kenyang dari petualangan kuliner sebelumnya, saya memilih sesuatu yang ringan: fritters keju renyah ditemani segelas es vanilla latte. Duduk di tepi kolam atau menatap hijau lapangan golf menghadirkan suasana sejuk dan tenang, membuat lounge ini terasa seperti tempat nongkrong yang mewah dan menenangkan di pinggiran kota.

Lokasi Cluster Greenwood, Jl Greenwood Golf Mansion No 49, Araya, Pakis, Malang, Jawa Timur

Jam Operasional
Setiap hari, 10.00 WIB - 22.00 WIB

Harga
Cheese fritters Rp 40.000
Es vanilla latte Rp 45.000



Menjelang senja, saya tersadar bahwa kuliner Malang adalah sebuah koleksi yang kontras, mulai dari gurihnya bakso goreng yang disantap di tengah antrean panjang di pasar tradisional, dan manis lembut lumpur kentang yang berjejak pengaruh Portugis, hingga kudapan ringan yang dinikmati dalam semilir tenang Djati Lounge. Sebelumnya, Rawon Tessy telah menghadirkan kuliner legendaris Jawa Timur yang sarat tradisi, sementara Hot Cui Mie menyuguhkan mi pedas yang begitu mewakili cita rasa klasik Malang dengan gaya kekinian. Setiap persinggahan bukan hanya soal rasa, melainkan juga suasana dan makna yang menjadi sebuah pengingat bahwa di Malang, makanan selalu menjadi bagian dari perjalanan yang merangkai cita rasa sekaligus kenangan.

Comments