Skip to main content

Featured

[ID] Menapaki Lagi Jejak di Gunung Bromo: Kembali ke Pesona Alam Tengger

Malang vs Probolinggo: Gerbang Menuju Bromo Bagi banyak pelancong, baik domestik maupun mancanegara, Malang bukan sekadar kota wisata. Kota ini sering menjadi titik awal perjalanan tak terlupakan menuju Gunung Bromo, salah satu destinasi paling ikonik di Pulau Jawa. Gunung berapi legendaris ini bahkan dikenal luas sebagai salah satu daya tarik wisata paling terkenal di Indonesia. Bromo sendiri merupakan gunung berapi aktif yang terdapat di tengah Kaldera Tengger, yang berada dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru—sebuah bentang alam yang dilindungi dan mencakup empat kabupaten di Jawa Timur, yaitu Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Malang. Perjalanan darat dari Malang menuju Gunung Bromo memang memakan waktu sekitar tiga jam. Namun, banyak wisatawan tetap memilih Malang sebagai basis perjalanan karena kota ini menawarkan pilihan hotel yang lebih beragam, kuliner yang variatif, serta suasana kota yang hidup.  Sebagai perbandingan, Probolinggo memberikan akses lebih cepa...

[ID] Mengulik Sekilas Sejarah di Museum Katedral Jakarta

Museum Kecil Yang Sarat Makna Di Kompleks Katedral

Terletak di dalam kompleks megah Gereja Katedral Jakarta yang ikonik di Jakarta Pusat, Museum Katedral menjadi ruang yang menyimpan jejak sejarah panjang Gereja Katedral ini dan Gereja Katolik secara umum di Indonesia. Meskipun ukurannya relatif kecil, museum ini memiliki nilai historis yang besar. Gagasan pendirian museum ini berasal dari Pastor Rudolphus Kurris, SJ, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Paroki Katedral Jakarta. Berkat dedikasi beliau, museum ini resmi dibuka untuk umum pada 28 April 1991, dengan tujuan menjadi tempat edukasi dan pelestarian warisan Gereja. Seiring waktu, kebutuhan akan ruang pameran yang lebih memadai mendorong pemindahannya ke gedung dua lantai yang saat ini menjadi lokasi tetapnya. Gedung ini dulunya berfungsi sebagai kantor sekretariat dan pastoran atau tempat tinggal para imam yang melayani di paroki. Setelah melalui proses renovasi dan penataan ulang, museum ini kemudian diberkati dan diresmikan kembali oleh Kardinal Ignatius Suharyo pada tahun 2018, menandai babak baru dalam peran museum sebagai jembatan antara sejarah dan generasi masa kini.

Museum Katedral ini awalnya diresmikan pada tahun 1991 sebelum direlokasi pada tahun 2017

Gedung ini pada awalnya digunakan sebagai kantor sekretariat dan pastoran paroki

Koleksi Obyek Sejarah dan Gereja Bawah Tanah

Museum Katedral menyimpan sekitar 400 koleksi benda bersejarah yang berkaitan erat dengan perjalanan panjang Gereja Katolik di Indonesia. Mulai dari benda-benda liturgi, dokumen lama, hingga artefak keuskupan, setiap koleksi di museum ini memiliki cerita dan makna tersendiri. Walaupun tidak terlalu luas, museum ini berhasil menyampaikan informasi yang kaya dan mendalam—tidak hanya mengenai sejarah Gereja Katedral Jakarta, tetapi juga tentang pertumbuhan Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) serta dinamika penyebaran agama Katolik di tanah air. Berdasarkan informasi dari panel-panel dwibahasa yang terpajang di dalam museum, penyebaran agama Katolik di wilayah Nusantara dimulai pada awal abad ke-16, saat bangsa Portugis pertama kali datang ke kepulauan Maluku dalam misi pencarian rempah-rempah. 

Selain kepentingan dagang, mereka juga membawa misi penginjilan, yang menjadi titik awal masuknya agama Katolik ke Indonesia. Namun, penyebaran iman Katolik ini tidak berjalan mulus. Ketika kekuasaan kolonial berpindah ke tangan Belanda, khususnya saat VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) menguasai Batavia pada tahun 1619, perkembangan agama Katolik mengalami hambatan besar. VOC yang berhaluan Protestan tidak mendukung keberadaan misi Katolik dan menerapkan kebijakan represif terhadap umat Katolik, yang mengakibatkan aktivitas gereja terpaksa dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

Kursi roda tua ini digunakan oleh Suster Ursulin pada tahun 1856

Bagian ini menyoroti sejarah para uskup Jakarta sejak masih bernama Batavia

Kebangkitan Gereja Katolik di Indonesia

Di bawah kepemimpinan Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon Coen dari VOC, umat Katolik menghadapi tekanan dan pembatasan yang sangat ketat. Mereka dilarang berkumpul secara terbuka, dan siapa saja yang melanggar aturan ini harus siap menerima hukuman berat. Kebijakan ini membuat kehidupan beragama umat Katolik menjadi sangat sulit, memaksa mereka untuk menjalankan ibadah dan perayaan secara diam-diam. Keadaan ini terus berlanjut bahkan setelah VOC resmi dibubarkan pada akhir abad ke-18, sehingga masa-masa gelap bagi Gereja Katolik di Hindia Belanda berlangsung cukup lama. Namun, perubahan mulai terjadi pada awal abad ke-19 ketika Paus Pius VII mengambil langkah penting dengan menunjuk RD Jacobus Nelissen sebagai Prefek Apostolik Batavia pada tanggal 8 Mei 1807. Penunjukan ini menandai awal kebangkitan Gereja Katolik di wilayah Indonesia, yang kemudian menjadi tonggak penting dalam sejarah sebagai tanggal resmi berdirinya Gereja Katolik Indonesia hingga hari ini.

Maket ini menggambarkan bangunan utama Katedral dan bangunan pendukung di sekitarnya

Perangkat liturgi ini digunakan saat kunjungan Paus Yohanes Paulus II ke Indonesia

Koleksi Museum Dari Kunjungan Para Paus Ke Indonesia

Salah satu bagian menarik dari koleksi museum ini adalah benda-benda yang berhubungan dengan tiga kunjungan Paus ke Indonesia—momen penting yang meninggalkan kesan mendalam bagi umat Katolik di tanah air. Dimulai dengan kunjungan singkat Paus Paulus VI pada tahun 1970, yang menjadi sejarah karena ia adalah Paus pertama yang pernah datang ke Indonesia. Selanjutnya, kunjungan yang lebih resmi dan penuh makna dari Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1989, yang membawa semangat baru bagi komunitas Katolik di sini. Dan yang paling terbaru, tentu saja, adalah kunjungan bersejarah Paus Fransiskus pada tahun 2024. Museum menyimpan beberapa artefak penting dari kunjungan ini, termasuk sebuah kursi kayu sederhana yang digunakan oleh Paus saat memimpin Misa Akbar di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), serta sejumlah benda kenangan yang memperingati acara yang sangat dinantikan oleh seluruh umat Katolik Indonesia. Sayangnya, saya tidak berkesempatan menghadiri Misa Akbar tersebut secara langsung karena setiap paroki hanya mendapat kuota terbatas untuk menghadiri acara besar itu. Namun, saya tetap dapat merasakan kebersamaan dan semangat yang sama dengan mengikuti siaran langsung (live streaming) Misa di gereja saya, yang juga dipenuhi oleh umat yang antusias. 

Kursi ini digunakan oleh Paus Fransiskus  dan para Uskup saat kunjungannya ke Indonesia

Benda kenangan lain termasuk koleksi perangko resmi dari Pos Indonesia

Relikui, Buku Registrasi Gereja, Kasula dan Perabotan Kuno

Selain koleksi terkait kunjungan paus, museum ini juga menyimpan berbagai relikui suci dan monstrans yang digunakan dalam upacara liturgi, sebagai simbol penting dari tradisi iman Katolik yang dijaga dengan khidmat. Di samping itu, terdapat pula sejumlah Alkitab kuno serta buku registrasi gereja yang memuat catatan baptisan, pernikahan, dan peristiwa penting lainnya dari masa lampau, yang menjadi saksi bisu perjalanan sejarah umat Katolik di Jakarta. Tidak kalah menarik, museum ini juga menampilkan beberapa pakaian liturgi lama yang dahulu dikenakan oleh para pastor saat memimpin misa dan upacara gereja. Tak hanya itu, ada juga koleksi perabotan rumah tangga yang pernah digunakan oleh para imam yang tinggal di pastoran lama, memberi gambaran kehidupan sehari-hari mereka yang penuh pengabdian. Meskipun ukurannya kecil, Museum Katedral Jakarta menyajikan sebuah wawasan yang sangat berharga bagi siapa saja yang ingin memahami lebih dalam mengenai sejarah Gereja Katedral dan Keuskupan Agung Jakarta, serta proses awal masuk dan berkembangnya Kekatolikan di Indonesia.

Buku catatan pernikahan ini sudah berusia hampir 200 tahun

Koleksi dan Informasi Yang Sangat Berharga

Museum Katedral bukan hanya sekadar ruang penyimpanan barang-barang lama, tetapi juga saksi bisu perjalanan iman dan sejarah yang membentuk komunitas Katolik di Indonesia. Dengan berbagai koleksi berharga yang dipajang, museum ini menjadi jendela bagi kita semua untuk menghargai perjuangan dan dedikasi para pendahulu dalam membangun Gereja yang kuat dan penuh harapan. Kunjungan ke museum ini akan meninggalkan kesan mendalam dan menginspirasi kita untuk terus melanjutkan warisan spiritual yang kaya bagi generasi mendatang.



Museum Katedral
Keuskupan Agung Jakarta

Lokasi Jl Katedral No 7B, Pasar Baru, Jakarta Pusat

Jam Operasional
Selasa sampai Minggu, Jam 10.00 WIB sampai 16.00 WIB
Senin, tutup

Tiket Masuk
Gratis

Website https://katedraljakarta.or.id/


Comments